skip to main |
skip to sidebar
Pertanyaan:
Ass. Wr. Wb.
Pak Ustad, apakah shalat sunah fajar itu sama dengan shalat sunah sebelum subuh? Jadi pelaksanaannya dilakukan setelah azan subuh dan bukan sebelum azan, betul pak?
wassalamu alaikum wr.wb.
asty
Jawaban:
Assalamu alaikum wr.wb.
Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita.
Saudari Asty, shalat sunah fajar memang dilakukan ketika fajar atau waktu subuh telah tiba dan ia dilaksanakan sebelum shalat subuh.
Hafshah ra. Berkata, “Rasulullah saw. pernah melakukan dua rakaat sunah fajar sebelum subuh di rumahku.”
Aisyah ra. Juga berkata, “Shalat sunah yang paling dijaga oleh Rasulullah adalah dua rakaat sebelum subuh.” (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Abu Daud).
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr.wb
Jawaban:
Assalamu alaikum wr.wb.
Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Shalat yang ditinggalkan oleh seseorang di masa hidupnya tidak bisa digantikan oleh ahli warisnya. Namun demikian, ada ibadah lain yang bisa dilakukan oleh ahli waris untuk yang meninggal tadi. Misalnya dengan mendoakannya, bersedekah, istigfar, berbuat baik kepada kerabatnya, dan menyambung tali silaturahim.
Jadi, amal kebaikan yang dapat diatasnamakan untuk mayit adalah doa, sedekah, dan semisalnya. Bukan dengan menggantikan shalat wajib yang pernah ditinggalkan oleh si mayit.
Bahkan Ibn Taymiyyah dan yang lain menegaskan bahwa shalat yang ditinggalkan oleh seseorang secara sengaja di masa hidup tidak bisa diqadha. Apalagi jika dikerjakan setelah ia mati oleh orang lain.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr.wb.
Beliau rahimahullah menjawab:
Penafsiran Al-Qur’an dengan berbagai teori-teori ilmiah mempunyai bahaya tersendiri, itu terjadi jika kita menafsirkannya dengan berbagai macam teori, lalu muncul teori-teori lainnya yang menyelisihi. Artinya bahwa Al-Qur’an menjadi tidak benar dalam pandangan musuh-musuh Islam.
Sedangkan pada pandangan kaum muslimin akan mengatakan bahwa kesalahan ini berasal dari gambaran orang yang menafsirkannya, tapi musuh-musuh kaum muslimin, mereka senantiasa menanti mara bahaya bagi kaum muslimin.
Oleh karena itu, saya memberi peringatan keras agar tidak tergesa-gesa dalam menafsirkan Al-Qur’an dengan perkara-perkara ilmiah ini. Kita biarkan perkara itu dengan kenyataan yang terjadi, maka tidak perlu untuk kita katakan bahwa Al-Qur’an telah menetapkan perkara ini. Al-Qur’an turun untuk praktek ritual ibadah, akhlak dan untuk ditadaburi. Allah Azza wa Jalla berfirman,
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shad: 29)
Hal-hal yang semacam ini yang tidak dapat dicapai dengan berbagai macam eksperimen dan manusia dapat mengetahuinya dengan ilmu-ilmu mereka, hal di atas bisa menjadi bahaya besar lagi berat dalam hal penurunan Al-Qur’an dalam perkara-perkara itu. Saya akan bawakan sebuah contoh dalam perkara ini, adalah firman Allah Azza wa Jalla,
“Wahai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (Ar-Rahman: 33)
Tatkala orang-orang telah berhasil menginjakkan kaki di bulan ada sebagian orang yang menafsirkan ayat ini dan menempatkannya pada peristiwa yang telah terjadi. Dia mengatakan: “Yang dimaksudkan sulthan (kekuatan) adalah ilmu.” Dengan keilmuan yang mereka miliki, mereka melintasi penjuru bumi dan mereka pun dapat melampaui batas daya tarik bumi. Ini merupakan kekeliruan. Tidak diperbolehkan untuk menafsirkan Al-Qur’an dengan pernyataan tersebut, karena jika engkau menafsirkan Al-Qur’an dengan suatu makna maka konsekuensinya engkau telah membuat suatu kesaksian bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkannya. Ini merupakan kesaksian yang sangat besar, engkau akan ditanya tentang hal itu. Barangsiapa yang mentadabburi ayat di atas, ia akan dapati bahwa penafsiran ini adalah penafsiran yang batil (tidak benar). Karena ayat tersebut memberikan penjelasan tentang kondisi manusia dan tempat kembalinya perkara mereka.
Bacalah surat Ar-Rahman, engkau akan dapati bahwa surat ini disebutkan setelah firman Allah Azza wa Jalla,
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 26-28)
Lalu hendaknya kita bertanya apakah kaum ini (jama’ah jin dan manusia) telah melintasi penjuru langit? Jawabannya: Tidak, demi Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Jika engkau sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi.”
Yang kedua: Apakah nyala api dan cairan tembaga tersebut telah dilepaskan kepada mereka (jin dan manusia)? Tidak. Jika demikian, maka ayat tersebut tidak benar ditafsirkan dengan tafsiran yang dibuat oleh mereka.
Kita katakan sesungguhnya sampainya mereka ke tempat-tempat yang telah mereka datangi itu, adalah termasuk ilmu-ilmu yang telah mereka capai dengan berbagai eksperimen yang mereka (lakukan). Adapun dengan menafsirkan Al-Qur’an secara salah agar kita bisa menyitirnya sebagai dalil atas hal di atas maka tindakan ini tidak benar dan tidak diperbolehkan.
shalat sunah fajar
Pertanyaan:
Ass. Wr. Wb.
Pak Ustad, apakah shalat sunah fajar itu sama dengan shalat sunah sebelum subuh? Jadi pelaksanaannya dilakukan setelah azan subuh dan bukan sebelum azan, betul pak?
wassalamu alaikum wr.wb.
asty
Jawaban:
Assalamu alaikum wr.wb.
Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita.
Saudari Asty, shalat sunah fajar memang dilakukan ketika fajar atau waktu subuh telah tiba dan ia dilaksanakan sebelum shalat subuh.
Hafshah ra. Berkata, “Rasulullah saw. pernah melakukan dua rakaat sunah fajar sebelum subuh di rumahku.”
Aisyah ra. Juga berkata, “Shalat sunah yang paling dijaga oleh Rasulullah adalah dua rakaat sebelum subuh.” (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Abu Daud).
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr.wb
Menuju shalat Khusyu
Pertanyaan:
assalamualaikum.wr.wb.
saya ada masalah dengan kekhusyukan sholat saya,,, saya ingin bertanya dengan redaksi sekalian, bagaimana langkah menuju kekhusyukan sholat? kepada redaksi semuanya saya ucapkan beribu2 terima kasih....... wassalamualaikum.
norma
Jawaban:
Assalamu alaikum wr.wb.
Semoga Allah mencurahkan rahmat dan petunjuk-Nya kepada kita semua.
Shalat khusyuk menjadi dambaan setiap orang yang beriman.
Nah cara untuk mencapai shalat khusyuk berbeda-beda antara setiap orang. Namun, pada dasarnya kalau kita mengikuti cara shalat yang dilakukan Rasul saw. kekhusyuan tersebut insya Allah akan tercapai. Di antaranya:
1. Memahami makna bacaan dalam setiap gerakan shalat.
2. Melakukan setiap gerakan secara thumakninah (tenang) tidak terburu-buru.
3. melaksanakan shalat di tempat yang tidak bising dan yang di depannya tidak dipenuhi oleh banyak gambar.
4. Tidak shalat dalam kondisi sangat lapar, atau ingin buang hajat.
5. Memposisikan shalat yang dikerjakan sebagai shalat yang terakhir sehingga sesudah itu seolah-olah kita tidak lagi bisa melaksanakan shalat karena mati.
6. Mengetahui rahasia dan hikmah di balik shalat.
7. meminta dan berdoa kepada Allah agar diberi kekhusyuan.
Itulah sejumlah cara yang bisa membantu kita untuk bisa khusyuk dalam melaksanakan shalat.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr.wb.
assalamualaikum.wr.wb.
saya ada masalah dengan kekhusyukan sholat saya,,, saya ingin bertanya dengan redaksi sekalian, bagaimana langkah menuju kekhusyukan sholat? kepada redaksi semuanya saya ucapkan beribu2 terima kasih....... wassalamualaikum.
norma
Jawaban:
Assalamu alaikum wr.wb.
Semoga Allah mencurahkan rahmat dan petunjuk-Nya kepada kita semua.
Shalat khusyuk menjadi dambaan setiap orang yang beriman.
Nah cara untuk mencapai shalat khusyuk berbeda-beda antara setiap orang. Namun, pada dasarnya kalau kita mengikuti cara shalat yang dilakukan Rasul saw. kekhusyuan tersebut insya Allah akan tercapai. Di antaranya:
1. Memahami makna bacaan dalam setiap gerakan shalat.
2. Melakukan setiap gerakan secara thumakninah (tenang) tidak terburu-buru.
3. melaksanakan shalat di tempat yang tidak bising dan yang di depannya tidak dipenuhi oleh banyak gambar.
4. Tidak shalat dalam kondisi sangat lapar, atau ingin buang hajat.
5. Memposisikan shalat yang dikerjakan sebagai shalat yang terakhir sehingga sesudah itu seolah-olah kita tidak lagi bisa melaksanakan shalat karena mati.
6. Mengetahui rahasia dan hikmah di balik shalat.
7. meminta dan berdoa kepada Allah agar diberi kekhusyuan.
Itulah sejumlah cara yang bisa membantu kita untuk bisa khusyuk dalam melaksanakan shalat.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr.wb.
Menghilangkan Riya', 'Ujub, dan Sum'ah
Tanya:
Saya mempunyai beberapa masalah yang sepertinya masih menggelayuti amal-amal saya. Pertama, saya masih sering merasa kalo virus-virus 'ujub, sum'ah dan/atau riya' sering "menemani" amal saya. Oleh karenanya, saya ingin bertanya tentang pengertian ikhlas yang sebenarnya dan riyadhah atau terapi untuk memupus virus-virus itu tadi. Atau kalau ada do'anya, ya alhamduliLlah. Kedua, saya ingin menanyakan terapi untuk mencapai shalat yang khusyu'. Demikian pertanyaan saya, semoga --dengan izin Allah-- bisa dibantu.
JazakumulLahu khiran katsiraa
Wassalamualaikum wr. wb
ade
Jawab:
Mas Hasanuddin, memang riya', 'ujub, sum'ah, dan semacamnya adalah penyakit-penyakit yang membahayakan. Bahaya karena sebenarnya penyakit itu akan menghancurkan kemerdekaan kita. Kita tidak merdeka karena dalam tindakan-tindakan itu, hati kita terbelenggu oleh (pujian, applaus, dan sikap-sikap) orang lain. Kalau tidak mendapat pujian atau sedikitnya perhatian, kita tak mau (mungkin kurang semangat) melakukannya.
Puncak kemerdekaan kita adalah keikhlasan (dalam setiap amal perbuatan kita) kepada Allah Swt. Silahkan..., orang mau tahu atau tidak, mau memuji atau tidak, yang penting saya adalah saya, kokoh dengan tindakan dan pendirian saya. Beginilah kemerdekaan.
Riya' itu satu tangga di bawah balas dendam. Karena riya' sumber kesalahannya melulu berasal dari diri kita sendiri. Tanpa ada orang lain mendahului. Sedangkan balas dendam didahului oleh tindakan orang lain. Kita membenci orang lain karena dia memulai membenci kita. Kita menyakiti orang lain karena dia telah menyakiti kita lebih dulu, dst.
Nah, jika balas dendam saja tidak dianjurkan, apalagi riya'. Riya' itu ibaratnya menjual (kemerdekaan) diri kita ditukar dengan (belenggu) pujian, penghormatan, atau sikap-sikap simpati lainnya dari orang lain. Betapa kerdilnya diri kita, jika demikian!!!
Kaitannya dengan hal ini, ada hadis yang sangat menarik: "Ta'isa 'abdu al-dînâr, wa al-dirham, wa al-qathîfah. In u'thiya radliya, wa in lam yu'tha lam yardla" (Celakalah para materialis, [penghamba dinar, dirham, dan sutera]. Senang jika diberi, dan tak senang jika tak diberi). [Riwayat Imam Bukhari, Bulûghul Marâm].
Pelajaran apa yang bisa diambil dari hadis tersebut? Sungguh, ia merupakan pelajaran akhlak yang amat agung. Penyebutan jenis-jenis materi di atas hanyalah sebatas contoh. Jadi, walaupun hadis itu hanya menyebut "dinar", "dirham", dan "sutera", tentu materi apapun jenisnya bisa disamakan. Bahkan tak terbatas pada materi saja, hal-hal yang berupa emosi (senang, benci, cinta, dan semacamnya). Sehingga bisa disamakan ke dalam pengertian hadis tersebut ungkapan seperti "tak senang karena tak diberi, senang karena diberi", "membenci karena dibenci", "mencintai karena dicintai", "memukul karena dipukul", "tak menghormati karena tidak dihormati", dan seterusnya.
Makanya puncak kemerdekaan kita adalah tindakan ikhlas karena Allah, tiada yang melebihi. Dalam segala tindakan kita harus bertekad "Saya tak perduli, orang mau benci atau tidak, mau suka atau tidak, mau tahu atau tidak, mau puji atau tidak, yang penting saya tetap pada tugas saya: mencintai, menghargai, memberi, menghormati, dll". Melepaskan segala macam ikatan duniawi untuk lepas landas menuju satu-satunya tujuan, Allah SWT, Sang Pencipta, Maha Pengasih, Maha Adil, Maha Bijak, Maha Pembalas, dst. Dalam taraf inilah seseorang, dalam ajaran sufi, mencapai makam tertinggi.
***
Berikut ini ada beberapa tip yang bisa membantu untuk sedikit-demi sedikit menghapus riya', 'ujub, sum'ah dan semacamnya:
Saya mempunyai beberapa masalah yang sepertinya masih menggelayuti amal-amal saya. Pertama, saya masih sering merasa kalo virus-virus 'ujub, sum'ah dan/atau riya' sering "menemani" amal saya. Oleh karenanya, saya ingin bertanya tentang pengertian ikhlas yang sebenarnya dan riyadhah atau terapi untuk memupus virus-virus itu tadi. Atau kalau ada do'anya, ya alhamduliLlah. Kedua, saya ingin menanyakan terapi untuk mencapai shalat yang khusyu'. Demikian pertanyaan saya, semoga --dengan izin Allah-- bisa dibantu.
JazakumulLahu khiran katsiraa
Wassalamualaikum wr. wb
ade
Jawab:
Mas Hasanuddin, memang riya', 'ujub, sum'ah, dan semacamnya adalah penyakit-penyakit yang membahayakan. Bahaya karena sebenarnya penyakit itu akan menghancurkan kemerdekaan kita. Kita tidak merdeka karena dalam tindakan-tindakan itu, hati kita terbelenggu oleh (pujian, applaus, dan sikap-sikap) orang lain. Kalau tidak mendapat pujian atau sedikitnya perhatian, kita tak mau (mungkin kurang semangat) melakukannya.
Puncak kemerdekaan kita adalah keikhlasan (dalam setiap amal perbuatan kita) kepada Allah Swt. Silahkan..., orang mau tahu atau tidak, mau memuji atau tidak, yang penting saya adalah saya, kokoh dengan tindakan dan pendirian saya. Beginilah kemerdekaan.
Riya' itu satu tangga di bawah balas dendam. Karena riya' sumber kesalahannya melulu berasal dari diri kita sendiri. Tanpa ada orang lain mendahului. Sedangkan balas dendam didahului oleh tindakan orang lain. Kita membenci orang lain karena dia memulai membenci kita. Kita menyakiti orang lain karena dia telah menyakiti kita lebih dulu, dst.
Nah, jika balas dendam saja tidak dianjurkan, apalagi riya'. Riya' itu ibaratnya menjual (kemerdekaan) diri kita ditukar dengan (belenggu) pujian, penghormatan, atau sikap-sikap simpati lainnya dari orang lain. Betapa kerdilnya diri kita, jika demikian!!!
Kaitannya dengan hal ini, ada hadis yang sangat menarik: "Ta'isa 'abdu al-dînâr, wa al-dirham, wa al-qathîfah. In u'thiya radliya, wa in lam yu'tha lam yardla" (Celakalah para materialis, [penghamba dinar, dirham, dan sutera]. Senang jika diberi, dan tak senang jika tak diberi). [Riwayat Imam Bukhari, Bulûghul Marâm].
Pelajaran apa yang bisa diambil dari hadis tersebut? Sungguh, ia merupakan pelajaran akhlak yang amat agung. Penyebutan jenis-jenis materi di atas hanyalah sebatas contoh. Jadi, walaupun hadis itu hanya menyebut "dinar", "dirham", dan "sutera", tentu materi apapun jenisnya bisa disamakan. Bahkan tak terbatas pada materi saja, hal-hal yang berupa emosi (senang, benci, cinta, dan semacamnya). Sehingga bisa disamakan ke dalam pengertian hadis tersebut ungkapan seperti "tak senang karena tak diberi, senang karena diberi", "membenci karena dibenci", "mencintai karena dicintai", "memukul karena dipukul", "tak menghormati karena tidak dihormati", dan seterusnya.
Makanya puncak kemerdekaan kita adalah tindakan ikhlas karena Allah, tiada yang melebihi. Dalam segala tindakan kita harus bertekad "Saya tak perduli, orang mau benci atau tidak, mau suka atau tidak, mau tahu atau tidak, mau puji atau tidak, yang penting saya tetap pada tugas saya: mencintai, menghargai, memberi, menghormati, dll". Melepaskan segala macam ikatan duniawi untuk lepas landas menuju satu-satunya tujuan, Allah SWT, Sang Pencipta, Maha Pengasih, Maha Adil, Maha Bijak, Maha Pembalas, dst. Dalam taraf inilah seseorang, dalam ajaran sufi, mencapai makam tertinggi.
***
Berikut ini ada beberapa tip yang bisa membantu untuk sedikit-demi sedikit menghapus riya', 'ujub, sum'ah dan semacamnya:
1. Anda harus sadar dan
tahu bahwa yang anda perbuat itu benar dan baik. Untuk itu, biasakan berfikir
dan berupaya keras memutuskan dengan tepat setiap langkah Anda: apa (yang Anda
lakukan), bagaimana (Anda melakukan), dan kenapa (Anda lakukan). Jangan
berfikir sempit dan pendek, tapi usahakan selalu menggali dampak-dampak dan
akibat-akibat perbuatan Anda jauh ke depan: manfaat dan madlarratnya. Sehingga
tidak ada alasan untuk tidak bersikap tegas dan berani. Jika sudah mampu
demikian, maka anda akan penuh percaya diri dan mantap dalam setiap langkah.
Jangan takut untuk berbeda, selama Anda yakin apa yang Anda perbuat itu benar.
Namun, jangan lantas merasa benar sendiri, sehingga membenci orang lain yang
Anda anggap salah. Dengan kata lain, ikhlas identik dengan kemantapan, percaya
diri, ketenangan dan kekokohan jiwa, juga kecerdasan, sedangkan riya' (sum'ah,
'ujub) identik dengan keragu-raguan, keresahan, jiwa yang labil, dan juga kebodohan.
2. Upayakanlah dalam
setiap waktu untuk mengingat Allah; sesering mungkin 'berbisik-bisik' dengan
Allah (mengeluh dan mengadu hanya kepada Allah). Luangkan waktu, di pagi dan
sore tiap hari, sekitar seperempat sampai setengah jam untuk dzikir dan instropeksi
diri: apa yang telah dan mau dilakukan.
3. Sadarlah bahwa Allah
senantiasa mengetahui gerak-gerik Anda. Bersamaan dengan itu, cukupkanlah
kepuasan Anda dengan pengetahuan Allah akan segala tindakan Anda. Anda akan
puas hanya dengan diketahui Allah jika Anda merasa takut dan berharap hanya
kpadaNYA.
4. Ketahuilah hanya Allah
yang akan mengganjar semua amal perbuatan kita semua.
5. Lakukan doa-doa dengan
khusyuk. Senantiasa memohon agar dikaruniai hati yang tulus dan ikhlas
(Allahummarzuqnaa al-ikhlaas wa al-istiqaamah wa hubba Allah wa hubba man
ahabbah = Ya Allah, karuniailah kami keikhlasan, istiqaamah, mencintai Allah,
dan orang-orang yang mencintaiNYA)
Adapun biar mudah mencapai khusyuk dalam salat, usahakanlah untuk
mengetahui semua makna bacaan-bacaan dalam salat, sejak Al-Fatihah sampai
salam. Iringi setiap ucapan lisan dengan kesadaran hati sedalam-dalamnya: kalau
pas nadanya do'a yang upayakan dengan sadar hati Anda memohon, dst. Sehingga
bacaan-bacaan itu tidak sekedar hafalan di mulut.
Arif Hidayat
Dewan Asaatidz Pesantren Virtual
Arif Hidayat
Dewan Asaatidz Pesantren Virtual
Mengganti Sholat bagi Orang yang Telah Meninggal Dunia
Pertanyaan:
Ass. Wr.Wb.
Apabila ada seseorang yang telah meninggal dunia, dimana semasa hidupnya tidak melaksanakan sholat, lalu apakah anak cucunya tersebut bisa melakukan sholat yang ditujukan untuk menggantikan sholat yang meninggal dunia?
Terima Kasih.
Wass.Wr.Wb.
Ade
Ass. Wr.Wb.
Apabila ada seseorang yang telah meninggal dunia, dimana semasa hidupnya tidak melaksanakan sholat, lalu apakah anak cucunya tersebut bisa melakukan sholat yang ditujukan untuk menggantikan sholat yang meninggal dunia?
Terima Kasih.
Wass.Wr.Wb.
Ade
Jawaban:
Assalamu alaikum wr.wb.
Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Shalat yang ditinggalkan oleh seseorang di masa hidupnya tidak bisa digantikan oleh ahli warisnya. Namun demikian, ada ibadah lain yang bisa dilakukan oleh ahli waris untuk yang meninggal tadi. Misalnya dengan mendoakannya, bersedekah, istigfar, berbuat baik kepada kerabatnya, dan menyambung tali silaturahim.
Jadi, amal kebaikan yang dapat diatasnamakan untuk mayit adalah doa, sedekah, dan semisalnya. Bukan dengan menggantikan shalat wajib yang pernah ditinggalkan oleh si mayit.
Bahkan Ibn Taymiyyah dan yang lain menegaskan bahwa shalat yang ditinggalkan oleh seseorang secara sengaja di masa hidup tidak bisa diqadha. Apalagi jika dikerjakan setelah ia mati oleh orang lain.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr.wb.
Menafsirkan Al-Qur’an dengan Ilmu Modern
Posted by Sprapto
Syaikh Al-Utsaimin ditanya:
Bolehkah menafsirkan Al-Qur’an Al-Karim dengan teori-teori ilmu modern?Beliau rahimahullah menjawab:
Penafsiran Al-Qur’an dengan berbagai teori-teori ilmiah mempunyai bahaya tersendiri, itu terjadi jika kita menafsirkannya dengan berbagai macam teori, lalu muncul teori-teori lainnya yang menyelisihi. Artinya bahwa Al-Qur’an menjadi tidak benar dalam pandangan musuh-musuh Islam.
Sedangkan pada pandangan kaum muslimin akan mengatakan bahwa kesalahan ini berasal dari gambaran orang yang menafsirkannya, tapi musuh-musuh kaum muslimin, mereka senantiasa menanti mara bahaya bagi kaum muslimin.
Oleh karena itu, saya memberi peringatan keras agar tidak tergesa-gesa dalam menafsirkan Al-Qur’an dengan perkara-perkara ilmiah ini. Kita biarkan perkara itu dengan kenyataan yang terjadi, maka tidak perlu untuk kita katakan bahwa Al-Qur’an telah menetapkan perkara ini. Al-Qur’an turun untuk praktek ritual ibadah, akhlak dan untuk ditadaburi. Allah Azza wa Jalla berfirman,
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shad: 29)
Hal-hal yang semacam ini yang tidak dapat dicapai dengan berbagai macam eksperimen dan manusia dapat mengetahuinya dengan ilmu-ilmu mereka, hal di atas bisa menjadi bahaya besar lagi berat dalam hal penurunan Al-Qur’an dalam perkara-perkara itu. Saya akan bawakan sebuah contoh dalam perkara ini, adalah firman Allah Azza wa Jalla,
“Wahai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (Ar-Rahman: 33)
Tatkala orang-orang telah berhasil menginjakkan kaki di bulan ada sebagian orang yang menafsirkan ayat ini dan menempatkannya pada peristiwa yang telah terjadi. Dia mengatakan: “Yang dimaksudkan sulthan (kekuatan) adalah ilmu.” Dengan keilmuan yang mereka miliki, mereka melintasi penjuru bumi dan mereka pun dapat melampaui batas daya tarik bumi. Ini merupakan kekeliruan. Tidak diperbolehkan untuk menafsirkan Al-Qur’an dengan pernyataan tersebut, karena jika engkau menafsirkan Al-Qur’an dengan suatu makna maka konsekuensinya engkau telah membuat suatu kesaksian bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkannya. Ini merupakan kesaksian yang sangat besar, engkau akan ditanya tentang hal itu. Barangsiapa yang mentadabburi ayat di atas, ia akan dapati bahwa penafsiran ini adalah penafsiran yang batil (tidak benar). Karena ayat tersebut memberikan penjelasan tentang kondisi manusia dan tempat kembalinya perkara mereka.
Bacalah surat Ar-Rahman, engkau akan dapati bahwa surat ini disebutkan setelah firman Allah Azza wa Jalla,
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 26-28)
Lalu hendaknya kita bertanya apakah kaum ini (jama’ah jin dan manusia) telah melintasi penjuru langit? Jawabannya: Tidak, demi Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Jika engkau sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi.”
Yang kedua: Apakah nyala api dan cairan tembaga tersebut telah dilepaskan kepada mereka (jin dan manusia)? Tidak. Jika demikian, maka ayat tersebut tidak benar ditafsirkan dengan tafsiran yang dibuat oleh mereka.
Kita katakan sesungguhnya sampainya mereka ke tempat-tempat yang telah mereka datangi itu, adalah termasuk ilmu-ilmu yang telah mereka capai dengan berbagai eksperimen yang mereka (lakukan). Adapun dengan menafsirkan Al-Qur’an secara salah agar kita bisa menyitirnya sebagai dalil atas hal di atas maka tindakan ini tidak benar dan tidak diperbolehkan.
SOLAT:
.shalat tahajud sholat tarawih
.Menuju shalat khusyu
.Sholat dhuha
.Sholat tasbih
.Niat sholat sunnah sebelum sholat subuh
.Sholat isya tahajud
.qunut witir pada ramadhan
.sujud sahwi
.doa waktu sujud.
.istighfar dalam sholat
.shalat malam maximal 11-rakaat
.criteria mukim yang membuat shalat jama
.beda madzab
.melakukan gerakan lain di dlm sholat
.Menuju shalat khusyu
.Sholat dhuha
.Sholat tasbih
.Niat sholat sunnah sebelum sholat subuh
.Sholat isya tahajud
.qunut witir pada ramadhan
.sujud sahwi
.doa waktu sujud.
.istighfar dalam sholat
.shalat malam maximal 11-rakaat
.criteria mukim yang membuat shalat jama
.beda madzab
.melakukan gerakan lain di dlm sholat

