Apakah Jilbab Harus Berwarna Hitam?


Posted by Suprapto
Pertanyaan: Jilbâb (pakaian -pent.) wanita muslimah, apakah dikhususkan harus berwarna hitam ataukah boleh berwarna selainnya?
Jawaban:
Pakaian wanita muslimah tidaklah dibatasi pada warna hitam, namun diperbolehkan baginya (wanita muslimah) untuk memakai pakaian dengan warna apapun (yang diperbolehkan oleh syarî’at -pent.) sepanjang menutupi ‘auratnya (bagian tubuh yang harus ditutupi menurut syarî’at), tidak menyebabkan bentuk penyerupaan terhadap laki-laki, tidaklah ketat sehingga menggambarkan bentuk lekuk tubuhnya, tidaklah transparan dan tipis sehingga menampakkan apa (kulit -pent.) yang berada di bawahnya, dan tidak menimbulkan fitnah (godaan).
Oleh:
‘Abdul-’Azîz ibn ‘Abdullâh ibn Bâz
‘Abdurrazzâq ‘Afîfî
‘Abdullâh ibn Ghudayân
‘Abdullâh ibn Qu’ûd
['Hijâb dan Pakaian Wanita' dari Fatâwâ Al-Lajnatid-Dâ'imati lil-Buhûtsil-'Ilmiyyati wal-Iftâ 1/5089 hal. 181 vol. 18]

(Diterjemahkan dari http://www.salafitalk.net/st/uploads/Jilbaab_Colour.doc untuk http://akhwat.web.id )
Tambahan:
Wanita muslimah diperbolehkan untuk mengenakan pakaian dengan warna selain hitam/gelap. Akan tetapi harus diketahui bahwa warna selain hitam tersebut bukanlah sebagai perhiasan seperti yang dipakai oleh para wanita muslimah sekarang ini, di mana mereka memakai pakaian dengan warna dan model yang beraneka ragam sehingga menarik banyak perhatian.
Meskipun wanita muslimah tidak diharuskan untuk memakai pakaian dengan warna tertentu, akan tetapi memakai pakaian berwarna gelap adalah lebih utama bagi mereka, sebagaimana yang dicontohkan oleh para shahâbiyât رضي الله عنهن yang dikenal memakai pakaian yang berwarna gelap dan hitam, berdasarkan hadîts dari Ummu Salamah رضي الله عنها yang menggambarkan keadaan pakaian wanita Anshâr ketika sûrat Al-Ahzâb âyat 59 turun:
قالت أم سلمة: )لما نزلت هذه‎ ‎الآية: ﴿يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ‏‎ ‎جَلابِيبِهِنَّ﴾ خرج نساء الأنصار‎ ‎كأن على رءوسهن الغربان)1( من‎ ‎السكينة وعليهن أكسية سود يلبسنها ).
Ummu Salamah رضي الله عنها‎ berkata: “Tatkala âyat ini turun, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jalâbîbnya ke seluruh tubuh mereka,’ maka wanita-wanita Anshâr pun keluar rumah dalam keadaan seolah-olah di atas kepala mereka terdapat burung gagak (ghirbân) karena pakaian (jilbâb hitam) yang mereka kenakan.’” (Abû Dâwud)
Footnote:
1 Syaikh Al-Albânî رحمه الله‎ berkata, “Lafazh ‘ghirbân’ adalah bentuk jamak dari ‘ghurab’ (burung gagak). Pakaian (jilbâb) yang mereka kenakan diserupakan dengan burung gagak karena berwarna hitam.”
Referensi: جلباب المرأة المسلمة‎ karya Asy-Syaikh Muhammad Nâshiruddîn Al-Albânî رحمه الله

Mengenal dimana allah

  Posted by Suprapto
Pada tulisan kali ini, kami angkat sebuah topik permasalahan yang klasik dan kontemporer, yaitu mengenal Dimana Allah? Karena di sana banyak kita dapati di antara masyarakat yang menyimpang dalam aqidah (keyakinan) yang agung, prinsip Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan para shahabat -Ridhwanullah ‘alaihim ‘ajmain-, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Kita mendapati di antara kaum muslimin di zaman ini, bermacam-macam keyakinannya atas pertanyaan “Dimana Allah?”
Di antaranya ada yang berkeyakinan bahwa Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berada di hati, bahwa Allah itu berada dimana-mana, bahwa Allah itu lebih dekat dari urat leher, bahwa Allah -Subhanahu wa Ta’ala- bersatu dengan hamba-Nya. Lebih parah lagi, ada juga yang berkeyakinan bahwa Allah itu tidak di kanan, tidak di kiri, tidak diatas, tidak di bawah, tidak di depan, dan tidak pula di belakang. Sungguh ini adalah pernyataan yang sangat lucu.
Lantas dimana Allah?! Padahal kalau kita mau mengikuti fitrah kita yang suci, sebagaimana fitrahnya anak yang masih kecil, pemikiran mereka yang masih polos, seperti putihnya kertas yang belum ternodai dengan tinta. Kita akan dapati jawaban dari lisan-lisan kecil mereka, jikalau mereka ditanya, “Dimana Allah?” Mereka akan menjawab, “Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berada di atas langit”.
Aqidah (keyakinan) tentang keberadaan Allah di langit (artinya, di atas Arsy), ini telah dijelaskan dalam Kitabullah, As-Sunnah, ijma’, dan komentar para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam kitab-kitab mereka. Mereka sudah patenkan (tetapkan) bahwa barangsiapa yang menyelisihinya, maka ia adalah ahli bid’ah, dan menyimpang.
Dalil-dalil masalah ini sangatlah banyak dari Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Berikut ini kami akan sebutkan -insya’ Allah- beberapa di antaranya saja, dan sebenarnya tidak terbatas.
Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin -rahimahullah- berkata dalam Syarh Lum’ah Al-I’tiqod (hal. 61), “Istiwa’ (bersemayam)-nya Allah di atas Arsy termasuk diantara sifat-sifat yang tetap bagi-Nya berdasarkan Al-Kitab, As-Sunnah, dan kesepakatan Salaf.”
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ‏‎ ‎اسْتَوَى
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Thoha: 5)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ‏‎ ‎الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ‏‎ ‎وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ‏‎ ‎أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى
الْعَرْشِ
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Al A’raf: 54)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ‏‎ ‎الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ‏‎ ‎وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ‏‎ ‎أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى
الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy untuk mengatur segala urusan.” (QS. Yunus: 3)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ‏‎ ‎السَّمَوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ‏‎ ‎تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى‎ ‎عَلَى الْعَرْشِ
“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Ar Ra’d: 2)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ‏‎ ‎وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا‎ ‎فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ‏‎ ‎اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy.” (QS. Al-Furqon: 59)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ‏‎ ‎السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ‏‎ ‎وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ‏‎ ‎أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى
الْعَرْشِ
“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `arsy.” (QS. As-Sajadah: 4)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ‏‎ ‎فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا‎ ‎إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ‏‎ ‎الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ
الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (QS. Fathir: 10)
Al-Hafizh Al-Baihaqy -rahimahullah- berkata dalam Al-I’tiqod (1/114), “Ayat-ayat itu merupakan dalil yang membatalkan pendapat orang Jahmiyyah yang menyatakan bahwa Dzat Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berada dimana-mana.”
Dalil-dalil dalam permasalahan ini banyak sekali, jika kita ingin memeriksa Al-Qur’an, As-Sunnah, dan atsar para salaf. Oleh karena itu, Ibnu Abil Izz Al-Hanafiy -rahimahullah- berkata dalam Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah (288), “Dalil-dalil yang semisal dengannya, kalau seandainya dihitung satu-persatu, maka akan mencapai ribuan dalil.”
Adapun dalil-dalil dari hadits, sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:
لمَاَّ خَلَقَ اَللهُ الْخَلْقَ‏‎ ‎كَتَبَ فِيْ كِتَابِهِ فَهُوَ‏‎ ‎عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ‏‎ ‎إِنَّ رَحْمَتِيْ غَلَبَتْ
غَضَبِيْ
“Ketika Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menciptakan makhluk-Nya, Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menuliskan di dalam kitab-NYa (Lauh Mahfudz) yang ada di sisi-Nya di atas Arsy (singgasana): ‘Sesungguhnya rahmat Allah mendahului kemurkaan-Nya.” [HR. Al-Bukhary dalam Shohih-nya (3022, 6969, dan 6986), dan Muslim dalam Shohih-nya (2751)]
Dari Abu Sa’id Al-Khudri Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
أَلاَ تَأْمَنُوْنَنِيْ‏‎ ‎وَأَنَا أَمِيْنُ مَنْ فِيْ‏‎ ‎السَّمَاءِ يَأْتِيْنِيْ
خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا‎ ‎وَمَسَاءً
“Tidakkah kalian percaya kepadaku? Sementara aku dalam keadaan beriman kepada Yang di langit. Datang kepadaku berita dari langit di waktu pagi hari dan petang …” [HR. Al-Bukhary dalam Shohih-nya (4094), Muslim dalam Shohih-nya (1064)]
Al-Qurthuby -rahimahullah- dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (7/219) berkata, “Tidak ada seorang salaf pun yang mengingkari bahwa Allah bersemayam di atas Arsy-Nya secara hakiki. Arsy dikhususkan karena ia merupakan makhluk Allah yang terbesar. Para salaf tidak (berusaha) mengetahui cara (kaifiyyah) Allah bersemayam, karena sifat bersemayam itu tidak bisa diketahui hakekatnya. Imam Malik -rahimahullah- berkata : [‘Sifat bersemayam itu diketahui maknanya secara bahasa, tidak boleh ditanyakan cara Allah bersemayam, dan pertanyaan tentang cara Allah bersemayam merupakan bid’ah dan ajaran baru.”
Jadi, madzhab Ahlis Sunnah menyatakan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy, namun ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Adapun aqidah yang menyatakan bahwa Allah berada dimana-mana, bukanlah merupakan aqidah Ahlis Sunnah, akan tetapi merupakan aqidah ahli bid’ah yang batil berdasarkan ayat-ayat yang menyebutkan bahwa Allah di atas Arsy beserta keterangan Ulama Ahlis Sunnah yang telah kami sebutkan, dan berikut tambahan keterangan dalam masalah ini:
Al-Hafizh Abu Umar Ibnu Abdil Barr -rahimahullah- berkata dalam At-Tamhid (7/129), “Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allah Azza wa Jalla berada di atas Arsy, di atas langit ketujuh sebagaimana yang ditegaskan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Itu juga merupakan hujjah mereka terhadap orang-orang Mu’tazilah yang berkata: “[Allah berada di mana-mana, bukan di atas Arsy]”.Dalil yang mendukung kebenaran madzhab Ahlul Haq/Ahlis Sunnah dalam hal ini adalah firman Allah Azza wa Jalla: “Ar-Rahman bersemayam di atas Arsy” dan firman-Nya Azza wa Jalla: “ Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy…”
Imam Al-Qurthuby -rahimahullah- berkata dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (4/162): “Jahmiyyah terbagi menjadi 12 kelompok … (di antaranya) Al-Multaziqoh, mereka menganggap bahwa Allah berada di mana-mana …”
Shodaqoh -rahimahullah- berkata, “Saya mendengar At-Taimy berkata, “Andaikan aku ditanya : Dimana Allah Tabaraka wa Ta’ala? Niscaya aku akan jawab: Dia di langit.” [ Lihat Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah (3/401/671)]
Imam Malik bin Anas -rahimahullah- berkata, “Allah berada di langit, sedang ilmu-Nya berada di mana-mana, tidak ada satu tempatpun yang kosong dari ilmu-Nya.” [ Lihat Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah (3/401/673)]
Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah- pernah ditanya, “Allah -Azza wa Jalla- berada di atas langit yang ketujuh, di atas Arsy terpisah dari makhluk-Nya. Kemampuan dan ilmu-Nya berada di mana-mana?” Beliau Jawab : “Ya, Dia berada di atas Arsy. Sedang tidak ada satu tempat pun yang kosong dari ilmu-Nya.” [ Lihat Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah (3/401-402/674)]
Imam Ahmad -rahimahullah- juga berkata, “Jika anda ingin mengetahui bahwa seorang Jahmiyyah itu berdusta atas nama Allah, yaitu saat ia menyangka bahwa Allah berada dimana-mana.” [Lihat Ar-Rodd ala Az-Zanadiqoh wa Al-Jahmiyyah (1/40)]
Dari semua dalil-dalil, dan pernyataan ulama salaf tersebut menunjukkan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy (singgasana), sedang Arsy Allah berada di atas langit, bukan di mana-mana. Merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk mengimani dengan keimanan yang kokoh, tanpa ragu terhadap semua dalil-dalil yang menerangkan hal tersebut, dan menghadapinya sebagaimana ia datang, tanpa takwil, dan tanpa menanyakan cara Allah bersemayam, atau menyerupakannya dengan makhluk-Nya.
Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata, “Adapun firman Allah Ta’ala :
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
“Lalu Dia bersemayam di atas Arsy.”
Orang-orang memiliki pendapat yang sangat banyak dalam masalah ini, tapi sekarang bukan saatnya kita paparkan. Dalam masalah ini kita harus mengikuti madzhab Salafush Sholeh, seperti Imam Malik, Al-Auza’iy, Ats-Tsaury, Al-Laits bin Sa’d, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq bin Rohuyah, dan lainnya dari kalangan ulama-ulama kaum muslimin baik dulu maupun sekarang. Madzhab mereka adalah menjalankan dan memahami sifat-sifat tersebut sebagaimana ia datang, tanpa perlu dibicarakan cara/bentuknya, atau diserupakan dengan sifat makhluk dan dihilangkan maknanya. Sedang yang terbayang dalam benak orang-orang Musyabbih (orang yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya) tersucikan dari Allah, karena tidak ada seorang makhlukpun yang menyerupai-Nya [‘Tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Sedang Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat’]. Bahkan inti permasalahannya sebagaimana yang telah ditegaskan oleh para ulama, seperti Nu’aim bin Hammad Al-Khuza’iy. Beliau berkata : ‘Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir. Barangsiapa yang menolak sesuatu yang Allah sifatkan untuk diri-Nya, maka ia telah kafir. Tidak ada penyerupaan pada sesuatu yang Allah sifatkan untuk diri-Nya. Barangsiapa yang menetapkan (sifat) bagi Allah sebagaimana yang terdapat dalam ayat-ayat yang gamblang, dan hadits-hadits shohih dengan bentuk yang sesuai dengan kemuliaan Allah dan menyucikan segala kekurangan dari Allah, maka sungguh ia telah menempuh jalan yang lurus’.” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (2/221)]
Ini adalah aqidahnya para nabi, para sahabat, para tabi’in, dan para pengikut tabi’in sebagai generasi terbaik dari umat ini dalam memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena merekalah yang menyaksikan turunnya wahyu, dan sebab sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam diucapkan oleh
beliau.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan taufiq dan pemahaman yang lurus serta agar kita termasuk dari golongan mereka dan dijauhkan dari pemahaman-pemahaman yang menyimpang. Washolallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Ahlihi wa Ashhaabihi Ajmain.
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 03 Tahun I.

Al Kursy dan Al Arsy Itu Nyata atau Kiasan?


Posted by Suprapto
Dalam Al Fatawa IV/584, Al Imam Al Alim Ar Rabbani Syaikhul Islam Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah rahimahullah ditanya: Apakah Al Arsy dan Al Kursy itu benar-benar ada atau hanya kiasan saja? Apakah termasuk madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berbicara dengan Musa ‘alaihis salam secara lisan tanpa ada perantara? Dan apa yang disaksikan oleh Nabi Musa ‘alaihis salam cahaya ataukah api?
Maka beliau rahimahullah menjawab:
Alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Bahkan Al Arsy itu keterangannya terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah dan juga ijma’ (kesepakatan) Salaful Ummah dan para imamnya. Demikian pula Al Kursy telah tsabit (shahih) menurut Al Qur’an dan As Sunnah serta ijma’ jumhur salaf. Dan telah dinukil dari sebagian mereka, bahwa kursi-Nya adalah ilmu-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun itu adalah pendapat yang sangat lemah. Karena sesungguhnya ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Ya Rabb kami! Rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu.” (QS. Al Mu’min: 7)
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui diri-Nya dan mengetahui hal yang telah terjadi serta yang belum terjadi. Bila dikatakan bahwa ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala itu meliputi langit dan bumi maka makna ini tidaklah sesuai, terlebih Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:
“Dan Allah tidak merasa berat menjaga/memelihara keduanya (langit dan bumi).” (QS. Al Baqarah: 255)
“Dan Allah tidak merasa berat”, artinya tidak memberatkan Allah dan tidak pula menyusahkan-Nya.
Makna ini lebih sesuai bila dihubungkan dengan kekuasaan dan bukan dengan ilmu. Demikian pula atsar-atsar yang telah dinukil menghendaki makna seperti itu. Tetapi ayat-ayat dan hadits-hadits tentang Al Arsy lebih banyak daripada Al Kursy, jelas serta mutawatir.
Berkata sebagian mereka: “Bahwa Al Kursy adalah Al Arsy”, namun kebanyakan mereka mengatakan bahwa Al Arsy dan Al Kursy adalah dua hal yang berbeda. [1]
Sedangkan Musa ‘Alaihis Salam, maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara dengannya tanpa perantara menurut kesepakatan kaum muslimin baik Ahlus Sunnah maupun Ahlul Bid’ah. Tidak ada seorangpun dari kaum muslimin baik Ahlus Sunnah, Al Jahmiyah, Al Mu’tazilah, Al Kullabiyah serta yang lainnya mengatakan bahwa antara Musa dan Allah ada perantara dalam hal dialog.
Akan tetapi di antara mereka ada perselisihan dalam hal-hal lain selain dari masalah ini. Dan yang disaksikan oleh Nabi Musa ‘alaihis salam adalah api berdasarkan nash Al Qur’an, dan itu juga cahaya (nur) sebagaimana tersebut dalam Al Hadits. Dan api itu adalah cahaya, wallahu a’lam (dan Allah lebih mengetahui). [2]
[Diambil dari buku Mutiara Fatwa dari Lautan Ilmu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, disusun dan dita'liq oleh Abdullah bin Yusuf Al 'Ajlan. Penerbit: Cahaya Tauhid Press, hal. 25-28]

Adzan Di Telinga Bayi


Posted by Suprapto
Adzan di telinga bayi di saat ia baru lahir, hampir termasuk perkara yang disepakati. Fenomena seperti ini, nampak tersebar di Negeri kita yang jauh dari Ulama rabbaniyyin yang mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shohih, sehingga membantu tersebar hal ini. Selain itu, banyak da’i yang berpangku tangan dan tidak mau meneliti masalah ini lebih detail lagi dari segi keakuratan hadits-hadits yang berkaitan dengan masalah ini, masalah disyari’atkannya adzan ditelinga bayi di hari kelahirannya.
Sebagai beban dan amanah ilmiah,kami perlu jelaskan tentang kondisi hadits yang diajdikan dasar perkara itu. Menurut pemeriksaan para ulama terhadap riwayat-riwayat dan jalur-jalur hadits adzan di telinga bayi, cuma ada tiga jalur atau empat:
Hadits Pertama:
Hadits ini berasal dari Abu Rofi’, bekas budak Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, ia berkata:“Saya melihat Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- adzan, seperti adzan sholat, di telinga Al-Hasan bin Ali, ketika Fathimah -radhiyallahu ‘anha- melahirkannya.” [HR. Abu Dawud (5105), At-Tirmidziy (4/1514), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (9/300), dan dalam Asy- Syu’ab (6/389-390), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (931-2578), dan dalam Ad-Du’a (2/944), Ahmad (6/9-391-392), Abdur-Razzaq (7986), Ath-Thoyalisiy (970), Al-Hakim (3/179), dan Al-Baghowiy (11/273).]
Al-Hakim berkata, “Shohih sanadnya sekalipun keduanya (Al-Al-Bukhariy dan Muslim) tidak mengeluarkannya.” Akan tetapi, ia disanggah oleh Adz-Dzahabi seraya berkata : “Ashim dho’if (lemah).” At-Tirmidzi berkata, “Semua meriwayatkannya dari jalur Sufyan Ats-Tsauri dari Ashim bin Ubaidillah dari Ubaidillah bin Abi Rofi’ dari bapaknya.”
Hadits ini juga diriwayatkan Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (926,2579), dan dibawakan hadits ini oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa’id (4/60) dari jalur Hammad bin Syu’aib dari Ashim bin Ubaidillah dari Ali bin Al-Husain dari Abi Rofi’ dengan sedikit tambahan, “Beliau adzan di telinga Al-Hasan dan Al-Husain.” Dia berkata di akhirnya, “Beliau memerintahkan hal itu kepada mereka.” Di dalam sanad hadits ini terdapat Hammad bin Syu’aib. Ibnu Ma’in telah men-dho’if-kannya. Al-Bukhariy berkata, “Mungkar haditsnya.” Pada tempat lain, ia berkata: “Mereka meninggalkan haditsnya.” Al-Haitsami berkata dalam Al- Majma’ (4/60), “Di dalamnya terdapat Hammad bin Syu’aib, sedang ia itu lemah sekali.”
Di dalamnya juga terdapat Ashim bin Ubaidillah, seorang yang dho’if (lemah). Selain itu, Hammad telah menyelisihi Sufyan Ats-Tsaury, baik dalam hal sanad maupun redaksi hadits, sebab ia telah meriwayatkannya dari Ashim dari Ali bin Al-Husain dari Abi Rofi’. Dia menggantikan Ubaidullah bin Abi Rofi’ dengan Ali bin Al-Husain, dan ia juga menambahkan lafazh pada redaksi hadits, “…Al-Husain”, dan perintah beradzan. Hammad yang ini termasuk orang yang tidak diterima haditsnya, jika menyendiri dalam meriwayatkan hadits, karena kelemahan pada dirinya yang telah anda ketahui. Apalagi ia menyelisihi orang yang lebih tsiqoh (terpercaya) dan teliti daripada dirinya seperti Ats-Tsaury. Dengan ini, hadits Hammad menjadi mungkar karena kelemahannya, ini pertama; dan kedua, penyelisihannya terhadap orang yang lebih tsiqoh.
Adapun jalur kedua dari Sufyan, terdapat seorang yang bernama Ashim bin Ubaidillah. Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata dalam At-Taqrib, “Dia lemah.” Al-Hafizh juga menyebutkan dalam At-Tahdzib (5/42), Syu’bah berkata, “Andaikan Ashim ditanya, “Siapakah yang membangun Masjid Bashrah, niscaya ia akan menjawab, “Fulan dari fulan dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau telah membangunnya.” Ini untuk menggambarkan rowi ini mudah meriwayatkan hadits, tanpa memperhatikan hadits yang ia riwayatkan sehingga ia banyak menyelisihi orang yang lebih tsiqoh.
Adz-Dzahaby berkata dalam Al-Mizan (2/354), “Abu Zur’ah dan Abu Hatim berkata: Ashim adalah haditsnya mungkar. Ad-Daruquthny berkata: Ia ditinggalkan, orangnya lalai.” Lalu ia membawakan hadits hadits Abu Rofi’, “Bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengadzani telinga Al-Hasan dan Al-Husain.” Ringkasnya, hadits ini dho’if (lemah) karena masalahnya ada pada Ashim, sedang Anda telah tahu keadaan dirinya.
Hadits Kedua:
Adapun hadits kedua dari Ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman (6/8620) dari Muhammad bin Yunus dari Al-Hasan bin Amer bin Saif As-Sadusy, ia berkata, Al-Qosim bin Muthoyyib telah menceritakan kami dari Manshur bin Shofiyyah dari Abu Ma’bad dari Ibnu Abbas:
”Bahwasanya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- adzan di telinga Al-Hasan bin Ali pada hari ia dilahirkan, di telinga kanannya. Beliau melakukan iqomat pada telinga kirinya.”

Setelah itu, Al-Baihaqiy berkata: “Pada sanadnya terdapat kelemahan.” Kami katakan, “Bahkan hadits ini palsu.” Penyakitnya ada pada Al-Hasan bin Amer. Al-Hafizh berkata dalam At-Taqrib, “Orangnya matruk/ditinggalkan.” Ibnu Abi Hatim berkata dalam Al-Jarh wa At-Ta’dil(1/2/26), biografi (no.109), “Saya pernah mendengarkan bapakku berkata: “Kami pernah melihat Al-Hasan bin Amer di Bashrah, dan kami tak menulis hadits darinya, sedang dia itu ditinggalkan haditsnya.” Adz-Dzahaby berkata dalam Al-Mizan, “Al-Hasan bin Amer dikatakan pendusta oleh Ibnul Madiny. Al-Bukhariy berkata, “Dia pendusta.” Ar-Rozy berkata, “Dia ditinggalkan.”
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, diantara kaedah-kaedah Ilmu Mushtholah Hadits bahwa hadits dho’if (lemah) tak akan bisa meningkat menjadi hadits shohih atau hasan, kecuali ia datang dari jalur periwayatan yang lain, dengan syarat: Tak ada orang yang parah ke-dho’if-annya/kelemahannya dalam jalur tersebut, apalagi sampai ada pendusta. Jadi, hadits kedua dari Ibnu Abbas ini -sedang kondisinya begini- tetap kedudukannya sebagai hadits dho’if dan tidak bisa dijadikan hujjah. Di antara konsekuensi ilmu hadits, hadits Ibnu Abbas tersebut tidak bisa dijadikan sebagai penguat bagi hadits Abu Rofi’. Jadi, hadits Abu Rofi’ tetap kedudukannya sebagai hadits dho’if, sedang hadits Ibnu Abbas adalah palsu!!
Hadits Ketiga:
Adapun hadits Al-Hasan bin Ali, hadits ini diriwayatkan oleh Yahya ibnul Ala’ dari Marwan bin Salim dari Tholhah bin Ubaidillah dari Al-Hasan bin Ali, ia berkata: Bersabda Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-,
“Barang siapa yang dikaruniai seorang anak, lalu ia mengadzani pada telinga kanannya dan beriqomat pada telinga kirinya, niscaya anak itu tak akan dimudhorotkan/dibahayakan oleh Ummu Shibyan.” [HR. Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (6/390), Ibnus Sunni dalam Amal Al-Yaum wa Al-Lailah(623)]

Hadits ini dibawakan oleh Al-Haitsami dalam Al-Majma’ (4/59) seraya berkata, “HR. Abu Ya’la (6780), di dalamnya terdapat seorang rawi yang bernama Marwan bin Salim Al-Ghifary, sedang ia itu matruk/ditinggalkan.” Bahkan hadits Al-Husain bin Ali di atas adalah palsu, di dalamnya terdapat seorang rawi yang bernama Yahya Ibnul Ala’ dan Marwan bin Salim, keduanya memalsukan hadits sebagaimana hal ini disebutkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah (321).
Nah, Hadits Abu Rofi’ tetap kondisinya sebagai hadits dho’if sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh dalam At-Talkhish (4/149): “Inti permasalahannya pada Ashim bin Ubaidillah, sedang ia itu dho’if.”
Dulu Syaikh Al-Albany meng-hasan-kan hadits ini dalam Shohih Sunan At-Tirmidzy (1224), Shohih Sunan Abu Dawud (4258), Al-Irwa’ (4/401), dan Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah (1/493). Namun belakangan Syaikh Al-Albany meralat peng-hasan-an beliau terhadap hadits Abu Rofi’ (hadits pertama) dalam Adh-Dho’ifah pada cetakan terakhir yang diterbitkan oleh Maktabah Al- Ma’arif (1/494/no.321), “Sekarang saya tegaskan –sekalipun kitab Asy-Syu’ab telah dicetak-, bahwa hadits Ibnu Abbas tidak cocok untuk dijadikan penguat (bagi hadits Abu Rofi’-pent.), karena di dalamnya terdapat rawi pendusta dan matruk (ditinggalkan). Saya amat heran terhadap Al-Baihaqy dan Ibnul Qoyyim, bagaimana keduanya cuma men-dho’if-kan hadits tersebut sehingga saya hampir memastikan cocoknya hadits itu dijadikan sebagai penguat. Makanya, sekarang aku pandang diantara kewajiban saya untuk mengingatkan hal itu dan mentakhrijnya pada pembahasan akan datang (no. 6121).”
Disana ada sebuah hadits yang diriwayatkan di dalam kitab Manaqib Al-Imam Ali (113) dari Ibnu Umar secara marfu’. Cuma sayangnya hadits ini lagi-lagi tidak bisa dijadikan penguat karena di dalamnya ada pendusta.
Jadi, tiga hadits di atas tidak boleh dijadikan hujjah dalam menetapkan sunnahnya meng-adzan-i, dan meng-iqomat-i telinga bayi yang baru lahir, karena kelemahan dan kepalsuannya.
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 2 Tahun I.

1000 Dalil Menyatakan Allah Di Atas Langit


 Posted by Suprapto
Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.
Saat ini, kami akan tunjukkan berbagai dalil yang menyatakan bahwa Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya sebagai sanggahan untuk Abu Salafy [0] yang masih meragukan keyakinan semacam ini. Ya Robbi, a’in ‘ala naili ridhoka (Wahai Rabbku, tolonglah aku untuk menggapai ridho-Mu).
• Ulama Besar Syafi’iyah Menyatakan Ada 1000 Dalil
Mengapa banyak yang mengaku sebagai Syafi’iyah malah jauh dari aqidah yang dipegang oleh ulama Syafi’iyah. Coba perhatikan nukilan Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni berikut.
قَالَ بَعْضُ أَكَابِرِ أَصْحَابِ‏‎ ‎الشَّافِعِيِّ : فِي الْقُرْآنِ “‏‎ ‎أَلْفُ دَلِيلٍأَوْ أَزْيَدُ :‏‎ ‎تَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ‏‎ ‎تَعَالَى عَالٍ عَلَى الْخَلْقِ‏‎ ‎وَأَنَّهُ فَوْقَ عِبَادِهِ .‏‎ ‎وَقَالَ غَيْرُهُ : فِيهِ “‏‎ ‎ثَلَاثُمِائَةِدَلِيلٍ تَدُلُّ‏‎ ‎عَلَى ذَلِكَ
“Sebagian ulama besar Syafi’iyah mengatakan bahwa dalam Al Qur’an ada 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan Allah itu berada di ketinggian di atas seluruh makhluk-Nya. Dan sebagian mereka lagi mengatakan ada 300 dalil yang menunjukkan hal ini.” [1]
Banyak yang mengaku Syafi’iyah namun menolak jika Allah dinyatakan berada di atas, padahal keyakinan ini didukung oleh 1000 dalil. Sungguh aneh!
• Bukti Terkuat dari Al Qur’an dan Hadits Nabawi
Selanjutnya kita akan melihat dalil-dalil yang kami olah dari penjelasan Ibnu Abil Izz Al Hanafi rahimahullah dalam Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah. [2] Ibnu Abil Izz Al Hanafi rahimahullah mengatakan, “Dalil-dalil yang muhkam (yang begitu jelas) menunjukkan ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Dalil-dalil ini hampir mendekati 20 macam dalil.” [3] Ini baru macam dalil yang menunjukkan ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya, belum lagi jika tiap macam dalil tersebut kita jabarkan satu per satu. Jika macam dalil tersebut diperinci, boleh jadi mencapai 1000 dalil sebagaimana disebutkan oleh ulama Syafi’iyah di atas.
Selanjutnya kami akan menyebutkan macam-macam dalil yang dimaksudkan Ibnu Abil Izz dan kami tambahkan dengan contoh dalil yang ada. Semoga hal ini semakin membuka hati blogger abusalafy yang masih meragukan hal ini.
Pertama: Dalil tegas yang menyatakan Allah berada di atas (dengan menggunakan kata fawqo dan diawali huruf min).
Seperti firman Allah,
يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن‎ ‎فَوْقِهِمْ
“Mereka takut kepada Rabb mereka yang (berada) di atas mereka.” (QS. An Nahl : 50)
Kedua: Dalil tegas yang menyatakan Allah berada di atas (dengan menggunakan kata fawqo, tanpa diawali huruf min).
Contohnya seperti firman Allah Ta’ala,
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ
“Dan Dialah yang berkuasa berada di atas sana.” (QS. Al An’am : 18, 61)
Ketiga: Dalil tegas yang menyatakan sesuatu naik kepada-Nya (dengan menggunakan kata ta’ruju).
Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,
تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ‏‎ ‎وَالرُّوحُ إِلَيْهِ
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabbnya.” (QS. Al Ma’arij : 4)
Keempat: Dalil tegas yang menyatakan sesuatu naik kepada-Nya (dengan menggunakan kata sho’ada-yash’adu). Ini pasti menunjukkan bahwa Allah di atas sana dan tidak mungkin Dia berada di bawah sebagaimana makhluk-Nya. Seperti firman Allah Ta’ala,
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ‏‎ ‎الطَّيِّبُ
“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik.” (QS. Fathir: 10)
Terdapat pula contoh dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu Umar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اِتَّقُوْا دَعْوَةَ المَظْلُوْمِ‏‎ ‎فَإِنَّهَا تَصْعُدُ إِلَى اللهِ‏‎ ‎كَأَنَّهَا شَرَارَةٌ
“Berhati-hatilah terhadap do’a orang yang terzholimi. Do’anya akan naik (dihadapkan) pada Allah bagaikan percikan api.” [4]
Yang dimaksud dengan ‘bagaikan percikan api’ adalah cepat sampainya (cepat terkabul) karena do’a ini adalah do’a orang yang dalam keadaan mendesak. [5]
Kelima: Dalil tegas yang menyatakan sebagian makhluk diangkat kepada-Nya (dengan menggunakan kata rofa’a).
Sesuatu yang diangkat kepada Allah pasti menunjukkan bahwa Allah berada di atas sana.
Allah Ta’ala berfirman,
بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ
“Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya .. ” (QS. An Nisa’ : 158)
Juga firman Allah Ta’ala,
إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى‎ ‎إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ‏‎ ‎إِلَيَّ
“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku.” (QS. Ali Imron: 55)
Keenam: Dalil tegas yang menyatakan ‘uluw (ketinggian) Allah secara mutlak. ‘Uluw (ketinggian) Allah ini mencakup ketinggian secara dzat (artinya Dzat Allah berada di atas), qodr (artinya Allah Maha Tinggi dalam Kehendak-Nya), dan syarf (artinya Allah Maha Tinggi dalam sifat-sifat-Nya). Seperti firman Allah Ta’ala (pada ayat kursi),
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Baqarah : 255)
Begitu pula dalam ayat,
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Saba’ : 23)
إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
“Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS. Asy Syura: 51)
Juga kita sering mengucapkan dzikir berikut ketika sujud,
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى
“Maha suci Rabbku Yang Maha Tinggi.” [6]
Dalil-dalil yang menyatakan Allah ‘Maha Tinggi’ di sini sudah termasuk menyatakan bahwa Allah Maha Tinggi secara Dzat-Nya yaitu Allah berada di atas.
Ketujuh: Dalil yang menyatakan Al Kitab (Al Qur’an) diturunkan dari sisi-Nya. Sesuatu yang diturunkan pasti dari atas ke bawah. Firman Allah Ta’ala yang menjelaskan hal ini,
تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ‏‎ ‎الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
“Kitab (Al Qur’an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Az Zumar : 1)
تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ‏‎ ‎الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
“Diturunkan Kitab ini (Al Quran) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ghafir: 2)
تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَنِ‏‎ ‎الرَّحِيمِ
“Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat: 2)
تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
“Yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushshilat: 42)
قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ‏‎ ‎مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ
“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar.” (QS. An Nahl: 102)
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ‏‎ ‎مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا‎ ‎مُنْذِرِينَ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan : 3)
Kedelapan: Dalil tegas yang mengkhususkan sebagian makhluk dikatakan berada di sisi Allah dan dalil yang menunjukkan sebagian makhluk lebih dekat dari yang lainnya. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ
“Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu.” (QS. Al A’rof: 206)
Begitu pula contohnya dalam firman Allah Ta’ala,
وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ‏‎ ‎وَالْأَرْضِ وَمَنْ عِنْدَهُ
“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya.” (QS. Al Anbiya’: 19)
Lihatlah dalam ayat ini Allah membedakan kalimat “man lahu …” yang menunjukkan kepemilikan Allah secara umum dan kalimat “man ‘indahu …” yang menunjukkan malaikat dan hamba-Nya yang berada khusus di sisi-Nya.
Contoh lainnya lagi adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ‏‎ ‎كَتَبَ فِى كِتَابِهِ ، فَهْوَ‏‎ ‎عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ إِنَّ‏‎ ‎رَحْمَتِى غَلَبَتْ غَضَبِى
“Ketika Allah menetapkan ketentuan bagi makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya: Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku. Kitab tersebut berada di sisi-Nya yang berada di atas ‘Arsy.” [7]
Kesembilan: Dalil tegas yang menyatakan Allah fis sama’.
Menurut Ahlus Sunnah, maksud fis sama’ di sini ada dua:
1) Fi di sini bermakna ‘ala, artinya di atas. Sehingga makna fis sama ’ adalah di atas langit.
2) Sama’ di sini bermakna ketinggian (al ‘uluw). Sehingga makna fis sama’ adalah di ketinggian.
Dua makna di atas tidaklah bertentangan. Sehingga dari sini jangan dipahami bahwa makna “fis samaa’ (di langit)” adalah di dalam langit sebagaimana sangkaan sebagian orang. Makna “ fis samaa’ ” adalah sebagaimana yang ditunjukkan di atas.
Contoh dalil tersebut adalah firman Allah Ta’ala,
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ‏‎ ‎أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ‏‎ ‎فَإِذَا هِيَ تَمُورُ
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di (atas) langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS. Al Mulk : 16)
Juga terdapat dalam hadits,
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ‏‎ ‎الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ‏‎ ‎الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى‎ ‎السَّمَاءِ
“Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Ar Rahman. Sayangilah penduduk bumi, niscaya (Rabb) yang berada di atas langit akan menyayangi kalian. ” [8]
Kesepuluh: Dalil tegas yang menyatakan bahwa Allah beristiwa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy. ‘Arsy adalah makhluk Allah yang paling tinggi. Contoh ayat tersebut adalah,
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ‏‎ ‎اسْتَوَى
“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy .” (QS. Thoha : 5)
Kesebelas: Dalil yang menunjukkan disyariatkannya mengangkat tangan ketika berdo’a. Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ‏‎ ‎وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ‏‎ ‎يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا‎ ‎رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ‏‎ ‎يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
“Sesungguhnya Rabb kalian –Tabaroka wa Ta’ala- Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu pada hamba-Nya, jika hamba tersebut mengangkat tangannya kepada-Nya, lalu Allah mengembalikannya dalam keadaan hampa.” [9]
Keduabelas: Dalil yang menyatakan bahwa Allah turun ke langit dunia di setiap malam.
Semua orang sudah mengetahui bahwa turun adalah dari atas ke bawah. Hal ini sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits muttafaqun ‘alaih,
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ‏‎ ‎وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى‎ ‎السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ‏‎ ‎يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ‏‎ ‎يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى‎ ‎فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ‏‎ ‎يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ‏‎ ‎يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rabb kami –Tabaroka wa Ta’ala turun setiap malamnya ke langit dunia. Hingga ketika tersisa sepertiga malam terakhir, Allah berfirman, ‘Siapa saja yang berdo’a pada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya. Siapa saja yang meminta pada-Ku, niscaya Aku akan memberinya. Siapa saja yang memohon ampunan pada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya’.” [10]
Ketigabelas: Isyarat dengan menunjuk ke langit yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas. Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Muslim dalam hadits yang cukup panjang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika manusia berkumpul dengan jumlah yang amat banyak, di hari yang mulia dan di tempat yang mulia.
قَالُوا نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ‏‎ ‎بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ.‏‎ ‎فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ‏‎ ‎السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى‎ ‎السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى‎ ‎النَّاسِ » اللَّهُمَّ اشْهَدِ‏‎ ‎اللَّهُمَّ اشْهَدْ «. ثَلاَثَ‏‎ ‎مَرَّاتٍ
Mereka yang hadir berkata, “Kami benar-benar bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan dan menyampaikan nasehat.” Sambil beliau berisyarat dengan jari telunjuknya yang diarahkan ke langit lalu beliau berkata pada manusia, “Ya Allah, saksikanlah (beliau menyebutnya tiga kali).” [11]
Keempatbelas: Dalil yang menanyakan ‘aynallah’ (di mana Allah?).
Contohnya dalil dari hadits Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulamiy dengan lafazh dari Muslim, “Saya memiliki seorang budak yang biasa mengembalakan kambingku sebelum di daerah antara Uhud dan Al Jawaniyyah (daerah di dekat Uhud, utara Madinah, pen). Lalu pada suatu hari dia berbuat suatu kesalahan, dia pergi membawa seekor kambing. Saya adalah manusia, yang tentu juga bisa timbul marah. Lantas aku menamparnya, lalu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkara ini masih mengkhawatirkanku. Aku lantas berbicara pada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus membebaskan budakku ini?” “Bawa dia padaku,” beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berujar. Kemudian aku segera membawanya menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya pada budakku ini,
أَيْنَ اللَّهُ
“Di mana Allah?”
Dia menjawab,

فِى السَّمَاءِ
“Di atas langit.”
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Siapa saya?” Budakku menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
“Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang mukmin.” [12]
Adz Dzahabi mengatakan, “Inilah pendapat kami bahwa siapa saja yang ditanyakan di mana Allah, maka akan dibayangkan dengan fitrohnya bahwa Allah di atas langit. Jadi dalam riwayat ini ada dua permasalahan: Pertama: Diperbolehkannya seseorang menanyakan, “Di manakah Allah?” dan Kedua: Orang yang ditanya harus menjawab, “Di atas langit”.” Lantas Adz Dzahabi mengatakan, “Barangsiapa mengingkari dua permasalah ini berarti dia telah menyalahkan Musthofa (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [13]
Kelimabelas: Dalil yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan orang yang menyatakan bahwa Rabbnya di atas langit dan beliau menyatakan orang tersebut beriman. Contohnya adalah sebagaimana hadits Jariyah yang disebutkan pada point keempatbelas.
Keenambelas: Dalil yang menyatakan bahwa Allah menceritakan mengenai Fir’aun yang ingin menggunakan tangga ke arah langit agar dapat melihat Tuhannya Musa. Lalu Fir’aun mengingkari keyakinan Musa mengenai keberadaan Allah di atas langit. Allah Ta’ala berfirman,
وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ‏‎ ‎ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي‎ ‎أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ‏‎ ‎أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ‏‎ ‎فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى‎ ‎وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا
“Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. ” (QS. Al Mu’min: 36-37)
Ibnu Abil ‘Izz mengatakan, “Mereka jahmiyah yang mendustakan ketinggian Dzat Allah di atas langit, mereka yang senyatanya pengikut Fir’aun. Sedangkan yang menetapkan ketinggian Dzat Allah di atas langit, merekalah pengikut Musa dan pengikut Muhammad.” [14]
Ketujuhbelas: Berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menceritakan bahwa beliau bolak-balik menemui Nabi Musa ‘alaihis salam dan Allah ketika peristiwa Isro’ Mi’roj. Ketika itu beliau meminta agar shalat menjadi diperingan. Beliau pun naik menghadap Allah dan balik kembali kepada Musa berulang kali. [15]
Peristiwa Isro’ Mi’roj ini secara jelas menunjukkan Allah itu di atas.
Kedelapanbelas: Berbagai macam dalil Al Qur’an dan As Sunnah yang menunjukkan bahwa penduduk surga melihat Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa penduduk surga tersebut melihat Allah sebagaimana mereka melihat rembulan di malam purnama tanpa dihalangi oleh awan. Penduduk surga tersebut melihat Allah dan Allah berada di atas mereka.
Demikian pemaparan mengenai macam-macam dalil yang mendukung Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya dan bukan di mana-mana sebagaimana klaim sebagian orang yang keliru dan salah paham.
• Mengkritisi Lagi AbuSalafy
Setelah pemaparan berbagai dalil yang begitu banyak yang membuktikan bahwa Allah itu berada di atas seluruh makhluk-Nya, maka kami akan mengajukan beberapa kritikan lagi kepada abusalafy dalam tulisannya “Kritik Atas Akidah Ketuhanan ala Wahabi Salafy“.
Intinya kesimpulan beliau adalah Allah ada tanpa tempat. Jadi, beliau menolak menyatakan Allah berada di atas langit dengan berbagai argumen yang ia kemukakan.
Kritik pertama: Di antara argumen abusalafy, beliau menolak shahihnya hadits Jariyah yaitu hadits dari Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulamiy yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan alasan hadits tersebut mudhthorib, sehingga beliau katakan bahwa redaksi pertanyaan di manakah Allah bukan redaksi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ada tambahan dari perowi.
Sebagai jawaban, walaupun kami memang perlu membahas tentang mudhthorib yang beliau tuduhkan, ringkasnya kami sanggah: Taruhlah jika hadits jariyah yang ditanya di manakah Allah itu lemah (dhoif), lantas bagaimana dengan dalil Al Qur’an dan Hadits Nabawi lainnya yang menyatakan secara tegas Allah di atas seluruh makhluk-Nya? Dalil-dalil ini mau diletakkan di mana?
Ataukah mau ditakwil (diselewengkan maknanya) lagi?
Jika ingin menyelewengkan makna dari berbagai dalil yang menyatakan Allah di atas, maka sudah cukup sanggahan kami dalam tulisan pertama sebagai sanggahan telak baginya. Silakan rujuk kembali dalam tulisan tersebut.
Kritik kedua: Beliau –abusalafy- menyatakan sendiri, “Keyakinan bahwa Allah itu berada di langit adalah keyakinan Fir’aun yang telah dikecam habis Al Qur’an. Allah berfirman,
. وَ قالَ فِرْعَوْنُ يا هامانُ ابْنِ‏‎ ‎لي صَرْحاً لَعَلِّي أَبْلُغُ‏‎ ‎الْأَسْبابَ * أَسْبابَ السَّماواتِ‏‎ ‎فَأَطَّلِعَ إِلى إِلهِ مُوسى وَ‏‎ إِنِّي لَأَظُنُّهُ كاذِباً وَ‏‎ ‎‏كَذلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ‏‎ ‎‏عَمَلِهِ وَ صُدَّ عَنِ السَّبيلِ وَ‏‎ ‎ما كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلاَّ في‎ ‎تَبابٍ.
“Dan berkatalah Firaun:” Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.” Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’un itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.” (QS. Ghafir/Al Mu’min: 36-37)
Ini tafsiran dari mana? Bukankah Fir’aun sendiri yang mengingkari keyakinan Nabi Musa yang menyatakan Allah berada di atas langit? Jadi Fir’aun yang sebenarnya mengingkari Allah di atas langit. Lantas dari mana dikatakan bahwa itu keyakinan Fir’aun? Sungguh ini tuduhan tanpa bukti. Beliau belum menunjukkan bukti sama sekali tentang tuduhannya tersebut.
Beliau mungkin saja yang salah paham sehingga pemahamannya pun jauh dengan yang dipahami ulama besar semacam Ibnu Abil Izz Al Hanafi. Lihat sekali lagi perkataann Ibnu Abil Izz tentang ayat tersebut. Ibnu Abil ‘Izz mengatakan, “Mereka jahmiyah yang mendustakan ketinggian Dzat Allah di atas langit, mereka yang senyatanya pengikut Fir’aun. Sedangkan yang menetapkan ketinggian Dzat Allah di atas langit, merekalah pengikut Musa dan pengikut Muhammad.” Dan Ibnu Abil Izz sebelumnya mengatakan, “Fir’aun itu mengingkari Musa yang mengabarkan bahwa Rabbnya berada di atas langit.” [16]
Dari sini silakan pembaca menilai siapakah sebenarnya yang jadi pengikut Fir’aun?
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber: http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2958-menyanggah-abusalafy-2-1000-dalil-menunjukkan-allah-di-atas-seluruh-makhluk-nya.html,